يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Kamis, 03 November 2011

MAKALAH PENELITIAN KUANTITATIF


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Aktivitas penelitian pada dasarnya sering dilakukan oleh manusia. Tidak hanya kalangan professor, doktor, atau juga mahasiswa. Secara tak sadar ketika seorang ibu melakukan pengamatan atas perkembangan anaknya jika dikorelasikan dengan susu formula yang diberikan, pada saat itulah sebenarnya ibu tersebut telah melakukan salah satu tindak penelitian. Demikian pula bapak tani ketika melakukan pengamatan atas jenis pupuk yang dipakai dikorelasikan dengan hasil panennya. Hanya saja penelitian itu tidak terstruktur dengan metode tertentu.
Mungkin karena dekatnya mahasiswa dengan label orang yang berpendidikan dan berilmu pengetahuan, ada masyarakat pedesaan yang menyebutkan kegiatan mahasiswa di desa adalah dalam rangka penelitian. Sehingga sebenarnya istilah penelitian ini memang tidak asing ditelinga masyarakat umumnya.
Penelitian itu sendiri memiliki banyak definisi. Supranto mendefinisikan penelitian sebagai suatu kegiatan untuk memperoleh data dan informasi yang berguna untuk mengetahui sesuatu, untuk memecahkan masalah, atau untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Sedangkan Sekaran mendefinisikan penelitian sebagai proses dengan berbagai langkah dalam menemukan solusi terhadap masalah yang problematik guna membantu manajer untuk membuat keputusan yang tepat.[1]
Dari definisi diatas diperoleh kata kunci penelitian meliputi tiga hal yaitu proses, masalah dan pengambilan keputusan. Dan untuk sampai pada pengambilan keputusan diperlukan yang namanya metode untuk menganalisis data yang terkumpul. Adapun analisis data yang menggunakan teori dan rumus-rumus statistik dalam dunia penelitian disebut sebagai penelitian kuantitatif.
Dan dalam perkembangannya penelitian kuantittatif ini tidak hanya digandrungi oleh mahasiswa yang kuliah dijurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Tetapi sudah tidak jarang mahasiswa S1 maupun S2 yang mengambil pendekatan kuantitatif dalam penelitiannya. Hal ini bisa disebabkan karena karakter kerja penelitian kuantitatif yang terencana, sistematis, dan jelas sejak awal hingga tahap pengembilan keputusan. Demikian pula bagi para calon magister Pendidikan Islam penting kiranya untuk memahami penelitian kuantitatif ini sebagai alternative pilihan penelitiannya nanti. Dan untuk itulah makalah ini dibuat.

B.       Rumusan Masalah
1.    Apakah definisi penelitian kuantitatif?
2.    Apa sajakah kelebihan dan kekurangan penelitian kuantitatif?
3.    Apa sajakah ragam penelitian kuantitatif?
4.    Apakah ciri-ciri judul penelitian kuantitatif?
5.    Bagaimanakah proses penelitian kuantitatif?

C.      Tujuan Pembahasan Masalah
1.    Untuk mengetahui definisi penelitian kuantitatif
2.    Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan penelitian kuantitatif.
3.    Untuk mengetahui ragam penelitian kuantitatif.
4.    Untuk mengetahui cirri-ciri judul penelitian kuantitatif.
5.    Untuk mengetahui proses penelitian kuantitatif





 
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Definisi Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya.[2] Definisi lain menyebutkan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Demikian pula pada tahap kesimpulan penelitian akan lebih baik bila disertai dengan gambar, table, grafik, atau tampilan lainnya. Namun bukan berarti penelitian kuantitatif bersih dari data yang berupa informasi kualitatif.[3]
Penelitian kuantitatif dibangun oleh paradigma positivisme. Sebuah paradigma yang di ilhami oleh David Hume, John Locke, dan Berkeley yang menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan dan memandang pengetahuan memiliki kesamaan hubungan dengan aliran filsafat yang dikenal dengan nama positivisme.[4] Untuk selanjutnya penelitian kuantitatif dikembangkan oleh para penganut paham positiviesme yang dipelopori oleh August Comte. Mereka berpendapat bahwa untuk memacu perkembangan ilmu-ilmu social, maka metode metode Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) harus diadopsi ke dalam riset-riset ilmu social.
3
 
Berdasar pada paradigma di atas maka lingkup penelitian kuantitatif sama dengan besaran ruang lingkup social, seperti pendidikan, sosiologi, politik, ekonomi, hukum, administrasi, komunikasi dan sebagainya, karena semua objek kemasyarakatan menjadi objek dan ruang lingkup penelitian kuantitatif. Sehingga penelitian kuantitatif ini menekankan pada hasil survey yang berbeda dengan penelitian kualitatif yang menekankan pada studi kasus.
Secara lebih detail perbedaan antara penelitian kualitatif dengan kuantitatif dijabarkan dalam table berikut:

     Tabel 1. Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kuantitatif
No
Unsur
Penelitian Kuantitatif
Penelitian Kualitatif
1
Kejelasan Unsur
Tujuan, pendekatan, subjek, sumber data sudah mantap, dan rinci sejak awal
Subjek sampel, sumber data tidak mantap dan rinci, masih flexsibel, timbul dan berkembangnya sambil jalan
2
Langkah penelitian
Segala sesuatu di rencanakan sampai matang ketika persiapan disusun
Baru diketahui dengan mantap dan jelas setelah penelitian selesai
3
Sampel dan populasi
Dapat menggunakan sampel dan hasil penelitiannya diberlakukan untuk populasi
Tidak dapat menggunakan pendekatan populasi dan sampel. Dengan kata lain dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah populasi dan sampel, istilah yang digunakan adalah setting. Hasil penelitia hanya berlaku bagi setting yang bersangkutan.
4
Hipotesis
a.    Mengajukan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian
b.    Hipotesis menentukan hasil yang diramalkan
Tidak mengemukakan hipotesis sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung. Hasil penelitian terbuka.
5
Desain
Dalam desain jelas langkah-langkah penelitian dan hasil yang diharapkan
Desain penelitiannya adalah flexible dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan sebelumnya.
6
Pengumpulan data
Kegiatan pengumpulan data memungkinkan untuk diwakilkan
Kegiatan pengumpulan data harus selalu dilakukan oleh peneliti sendiri.
7
Analisis data
Dilakukan sesudah semua data terkumpul
Dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data.[5]
8
Pemberi Informasi
Disebut responden
Disebut informan
9
Data
Berupa data kuantitatif atau dalam bentuk angka
Berupa narasi dan angka
10
Instrumen penelitian
Berupa kuisioner yang tidak boleh diinterpretasikan oleh pengedar kuisioner dan tidak juga boleh ditambah atau dikurangi
Instrument penelitian adalah peneliti sendiri, sehingga peneliti harus konseptual dan teoritikal.[6]

B.  Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Kuantitatif
1.             Kelebihan Metode Kuantitatif[7]
a.        Dapat digunakan untuk menduga atau meramal.
b.      Hasil analisis dapat diperoleh dengan akurat bila digunakan sesuai aturan.
c.       Dapat digunakan untuk mengukur interaksi hubungan antara dua atau lebil variabel.
d.      Dapat menyederhanakan realitas permasalahan yang kompleks dan rumit dalam sebuah model.
2.    Kekurangan Metode Kuantitatif
a.       Berdasarkan pada anggapan-anggapan (asumsi)
b.       Asumsi tidak sesuai dengan realitas yang terjadi atau menyimpang jauh maka kemampuannya tidak dapat dijamin bahkan menyesatkan.
c.       Data harus berdistribusi normal dan hanya dapat digunakan untuk menganalisis data yang populasi atau sampelnya sama.
d.      Tidak dapat dipergunakan untuk menganalisis dengan cuplikan (sampel) yang jumlahnya sedikit (> 30).

C.  Ragam Penelitian Kuantitatif
            Ragam atau jenis penelitian kuantitatif digolongkan menjadi beberapa macam. Ragam penelitian ini dibuat sebanyak mungkin untuk menghindari terjadinya tumpang tindih antara ragam yang satu dengan lainnya. Namun meski demikian kategorisasi ini tidak harus diikuti, karena pada prakteknya tidak jarang terjadi pengabungan satu dua ragam penelitian guna menyesuaikan satu model penelitian dengan masalah yang dihadapi. Hal ini bisa disebabkan oleh kompleknya akibat dari gejala dan variable yang ada di masyarakat. Berikut table ragam penelitian menurut jenis penggolongannya.
Tabel 2. Ragam penelitian Kuantitatif.
No
Penggolongan Menurut
Ragam Penelitian

1
Tujuan
a.         Eksplorasi
b.         Pengembangan
c.         Verifikasi

2
Pendekatan
a.         Longitudinal
b.         Cross sectional
c.         Kuantitatif
d.        Survei
e.         Assessment
f.          Evaluasi
g.         Action Reserch

3
Tempat
a.         Library
b.         Laboratorium
c.         Field

4
Bidang ilmu
a.         Pendidikan
b.         Agama
c.         Manajemen
d.        Komunikasi
e.         Administrasi
f.          Bahasa
g.         Hokum
h.         Sejarah
i.           Antropologi
j.           Sosiologi
k.         Filsafat, dl

5
Taraf Penelitian
a.         Deskriptif
b.         Eksplanasi

6
Saat Terjadinya Variabel
a.         Historis
b.         Ekspos-Fakto
c.         Eksperimen



D.  Ciri – Ciri Judul Penelitian Kuantitatif
Adapun ciri judul penelitian kuantitatif biasanya kata yang digunakan diawal judul adalah:
1.         Hubungan
2.         Kontribusi
3.         Pengaruh
4.         Perbedaan
5.         Persepsi
Dari kata awal judul diatas maka penelitian kuantitatif dapat digunakan untuk mengetahui perasaan seseorang. Karena perasaan seseorang itu bisa dituangkan sebagai persepsi orang tersebut. Sehingga persepsi bisa dianalisis dengan kuantitatif. Adapun contoh penggunaan pendekatan kuantitatif dalam kehidupan sehari-hari misalnya, penelitian yang dilakukan untuk meneliti bentrok antara aparat keamanan dan mahasiswa yang berdemontrasi. Kemudian penelitian tentang perilaku remaja, dan lain sebagainya.[8]

E.  Proses Penelitian Kuantitaif
Proses penelitian yang dimaksud adalah kerangka kerja peneliti dalam melakukan penelitian kuantitatif. Minimal ada enam langkah yang harus dilakukan oleh peneliti yang meliputi:
1.      Mengeksplorasi, merumuskan dan penentuan masalah yang akan diteliti
Pada tahap ini peneliti diharuskan untuk mencari topic masalah yang diminati yang disesuaikan dengan tujuan penelitiannya. Topic masalah dianggap sebagai kerangka besar masalah sedangkan masalah adalah bagian-bagaian dalam topic itu. Bila masalah sudah ditemukan maka peneliti boleh melanjutkan ke tahap pembuatan judul.



Hal penting yang perlu diingat oleh peneliti bahwa kebiasaan menggonta-ganti topic, masalah dan judul yang telah dipilih adalah tidak membantu penyelesaian persoalan. Karena hal itu malah menjadikan peneliti tidak beranjak alias diam ditempat. Adapun pertimbangan dalam memilih masalah minimal ada dua hal:
a.       Pertimbangan objektif
Maksud dari pertimbangan objektif disini adalah pertimbangan berdasarkan masalah itu sendiri, layak tidak layak masalah itu diangkat. Penentuan kelayakan masalah itu minimal didasarkan pada pertimbangan kualitas masalah itu dan dapatnya masalah itu dikonseptualisasikan.
b.      Pertimbangan subjektif
Pertimbangan subjektif adalah pertimbangan seputar kredibilitas peneliti terhadap apa yang akan ditelitinya. Sehingga hal-hal yang dipertimbangkan disini mencakup minat, dana, kemampuan, waktu dan lain-lain yang dimiliki peneliti terhadap masalah yang akan ditelitinya.
   Apabila kedua pertimbangan di atas mengarah pada kondisi yang posisif maka peneliti bisa melanjutkan untuk mengambil keputusan atas masalah penelitian yang akan ditempuh. Bila hasil dari kedua pertimbangan tersebut negative maka bisa dipertimbangakan untuk tidak memlih masalah tersebut.

2.      Mendesain model penelitian dan parameter penelitian
Langkah selanjutnya bagi peneliti setelah menetapkan masalah yang akan diteliti adalah memilih desain penelitian. Untuk melangkah menuju desain penlitian kuantitatif seorang peneliti hendaknya menentukan konsep penelitiannya. Sedangkan konsep penelitian dapat diperoleh dengan generalisasi dan abstraksi. Generalisasi adalah proses bagaimana memperoleh prinsip dari berbagai pengalaman yang berasal dari literature dan empiris.  Sedangkan abstraksi mencakup ciri-ciri umum yang khas dari fenomena yang dibicarakan itu.
Hal penting lainnya yang harus diperhatikan oleh peneliti dalam membuat konsep penelitian adalah desain variabel dan interaksi antar variabel. Dan perlu diingat bahwa konseptualisasi dalam penelitian kuantitatif akan terbentuk jika peneliti membaca teori yang akan digunakan dalam penelitiannya. Apabila teori dan konsep telah terbentuk peneliti bisa menentukan metode penelitian yang akan digunakan.
Teori
 
 



Variabel Kuantitatif
            Variabel adalah fenomena yang bervariasi dalam bentuk kualitas, kuantitas, mutu standard dan lain sebagianya.[9] Agar variabel dapat di ukur maka harus dijelaskan konsep operasioanal variabel, meliputi parameter (ringkasan variabel) atau indikator-indikatornya. Secara konsep variabel dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:[10]
1.      Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang menjadi perhatian utama dan menjadi sasaran dalam penelitian.
2.      Variabel Bebas
Variabel bebas adalah variabel yang dapat mempengaruhi perubahan variabel terikat dan mempunyai hubungan positif dan negatif. 
3.      Variabel Moderator
Variabel moderator adalah variabel yang memiliki pengaruh ketergantungan yang kuat dalam hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas. Kehadiran variabel moderator ini akan mengubah hubungan awal antara variabel bebas dengan variabel terikat.
4.      Variabel Antara
Variabel antara adalah variabel yang bisa muncul saat variabel bebas mulai mempengaruhi variabel terikat.
Berikut skema hubungan keempat variabel tersebut
Variabel Moderator
 
 










Adapun karakteristik variabel kuantitatif dibedakan menjadi 2 yaitu variabel diskrit dan variabel kontinyu.[11]
a.       Variabel diskrit (nominal)
Variabel yang hanya dikategorikan menjadi 2 kutub yaitu “ya” dan “tidak”. Angka-angka yang digunakan dalam variabel diskrit adalah untuk menghitung banyaknya.
b.      Variabel kontinyu
Variabel kontinyu dibedakan menjadi 3 yaitu:
·       Variabel ordinal
Variabel yang menunjukkan tingkatan-tingkatan. Missal: tingkat kecerdasan siswa mulai dari kurang, sangat kurang, bagus.
·       Variabel interval
Sebuah variabel yang selain menunjukkan klasifikasi tingkatan juga memiliki jarak yang dapat diketahui.
·       Variabel ratio
Adalah sebuah variabel yang selain menunjukkan klasifikasi tingkatan, juga memiliki jarak yang dapat diketahui dengan pasti. Contoh: berat badan, usia, dan lain-lain.
Hubungan antar variabel dibedakan menjadi 3 yaitu:
·         Hubungan simetris, yaitu variabel satu tidak dipengaruhi oleh variabel lainnya.
·         Hubungan asimetris, yaitu apabila satu variabel mempengaruhi variabel lainnya.
·         Hubungan timbale balik, yaitu kedua variabel saling mempengaruhi.

Hipotesis Penelitian Kuantitatif
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu masalah. Jawaban tersebut masih perlu diuji kebenarannya.[12] Adapun cara merumuskan hipotesis minmal memenuhi 3 kriteria yaitu:
1.      Hipotesis harus mendukung judul, masalah, dan tujuan penelitian
2.      Hipotesis harus dapat diuji berdasarkan data empiris
3.      Hipotesis harus bersifat spesifik
Adapun jenis hipotesis dalam dunia statistic dikenal ada 2 macam, yaitu hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternative (Ha). Hipotesis nol adalah hipotesis yang menyatakan adanya atau tidak adanya perbedaan atau tidak ada pengaruh antara dua variabel yang dipersoalkan.[13] Hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang menyatakan ketidaksamaan, perbedaan, atau adanya pengaruh antara dua variabel yang dipersoalkan. Contoh: Ho : Tidak ada hubungan antara stress yang dialami mahasiswa dengan banyaknya tugas kuliah. Maka Ha : ada hubungan stress yang dialami mahasiswa dengan banyaknya tugas kuliah.

Populasi dan Sampel
            Populasi adalah seluruh elemen penelitian, bisa berupa orang, produk, lembaga, dan lain-lainnya. Sedangkan sampel adalah suatu himpunan bagian dari populasi yang anggotanya disebut sebagai subjek, sedangkan anggota populasi disebut elemen. Banyak teori guna mengukur jumlah sampel yang diperlukan. Missal teori Slovin, gay dan lain-lain.[14]

3.      Mendesain instrument pengumpulan data penelitian
Instrument penelitian dalam kegiatan penelitian ibarat sebuah jala atau jaring yang digunakan untuk menangkap data sebanyak dan sevalid mungkin. Karena peran inilah yang menjadikan instrument penelitian memiliki posisi amat penting dalam penelitian. Instrument penelitian dibedakan menjadi beberapa model. Diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       Wawancara (interview)
Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh peneliti dengan responden. Ada beberapa model wawancara yang bisa dilakukan oleh peneliti. Pertama, wawancara terstruktur. Wawancara ini dilakukan dengan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya dan dilakukan secara face to face, telepon atau email. Kedua wawancara tidak terstruktur. Yaitu wawancara yang daftar pertanyaannya tidak tersusun dengan baik.
b.      Angket (quisioner)
Angket atau quisioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang telah dirumuskan sebelumnya untuk dijawab oleh responden. Jenis quisioner bisa dibedakan menjadi dua. Pertama, Quisioner yang diberikan secara pribadi. Quisioner yang diberikan secara pribadi ini dapat diterapkan ketika survey dilakukan dengan ruang dan waktu yang terbatas. Kedua, Quisioner surat. Quisioner jenis ini keuntungannya bisa menjangkau luas. Quisioner dikirim mellaui surat dan kepada respondeng dan biasanya di lengkapi dengan amplop dan perangko balasan untuk dikirim balik.
c.       Pengamatan (observation)
Pengamatan atau observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian, dan data penelitian tersebut dapat diamati oleh peneliti. Ada beberapa bentuk observasi, yaitu:[15]
1.   Observasi Berstruktur
Observasi berstruktur adalah kegiatan observasi dimana peneliti telah menyiapkan materi pengamatan dan instrumen yang akan digunakan. Observasi ini juga disebut pengamatan sistematik.
2.    Observasi Tidak Berstruktur
Observasi tidak berstruktur maksudnya bahwa kegiatan observasi dilakukan tanpa menggunakan guide observasi. Sehingga peneliti harus menguasai ilmu tentang objek yang diteliti.
d.      Dokumentasi
Dokumentasi adalah data sekunder yang tersimpan dalam bentuk dokumen atau file. Dokumen  ini bisa berupa buku, laporan, notulen, disc, majalah, surat kabar, foto, dan lain sebagainya.
e.       Test.
Tes sebagai pengumpul data adalah serangkaian pertanyaan dan latihan yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Ada beberapa macam tes instrumen pengumpulan data, diantaranya: tes kepribadian, tes bakat, tes prestasi, tes sikap, tes intelegensia.[16]

Data-data yang diperoleh dari instrument inilah yang kemudian akan dianalisis untuk menguji kesimpulan awal (hipotesa) yang telah ditentukan peneliti. Dari penjabaran ini nampak bahwa instrument penelitian memiliki peran yang penting dalam proses pengumpulan data.

 








 Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel.
a.       Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau keshahihan suatu instrument. Untuk memperoleh instrument yang valid peneliti harus bertindak hati-hati sejak awal penyusunannya. Dengan mengikuti langkah-langkah penyusunan instrument, yakni memecah variabel menjadi sub variabel, indicator, kemudian merumuskan butir-butir pertanyaannya. Apabila cara dan isi tindakan ini sudah betul, dapat dikatakan bahwa peneliti sudah boleh berharap memperoleh instrument yang memiliki validitas logis.
Selain validitas logis peneliti juga bisa menguji validitas empiris instrument. Validitas empiris ini bisa diperoleh dengan cara peneliti mengujicobakan instrument pada sasaran sesuai dengan sasaran dalam penelitian. Langkah ini biasa disebut dengan uji coba (try out)  isntrumen. Apabila hasil dari try out ini baik maka berarti instrument sudah baik alias valid. Adapun macam validitas di lihat dari cara pengujiannya ada 2, yaitu validitas internal dan validitas eksternal.[17]
Validitas eksternal bisa dicapai bila data yang dihasilkan sesuai dengan data lain mengenai variabel yang dimaksud penilitian. Rumus statistic yang dipakai untuk uji validitas ini adalah rumus korelasi product moment Pearson. Sedangkan validitas internal  bisa dicapai apabila terdapat kesesuain antara bagian-bagian instrument dengan instrument secara keseluruhan. Untuk uji validitas internal ini rumus statistic yang diapakai adalah analisis factor dan analisis butir.
b.      Reliabilitas
Uji reliabilitas instrument menunjukkan hasil pengukuran suatu instrument yang tidak mengandung bias atau bebas dari kesalahan pengukuran. Reliabilitas secara garis besar dibedakan menajdi 2 yaitu reliabilitas eksternal dan reliabilitas internal. Reliabilitas eksternal dapat dilakukan dengan teknik parallel dan tekni ulang. Teknik parallel dilakukan dengan cara peneliti membuat 2 instrumen yang sama kemudian di ujicobakan kepada sekelompok respondan dan mereka mengerjkaanya dua kali. Setelah itu hasilnya dikorelasikan dengan rumus korelasi pearson.
Sedangkan teknik ulang dilakukan dengan cara peneliti membuat satu instrument kemudian diujicobakan kepada responden dan dilain waktu diujicobakan lagai pada responden yang sama. Setelah itu hasilnya di korelasikan dengan rumus stastistik.
Reliabilitas internal diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu kali hasil pengetesan. Ada bebeapa rumus statistic yang bisa dipakai diantaranya rumus alpha, rumus rulon dan lain-lain
4.      Melakukan pengumpulan data penelitian
Proses pengumpulan data penelitian kuantitatif harus terprogram dan terencana. Hal-hal yang harus disiapkan oleh peneliti dalam tahap pengumpulan data adalah sebagai berikut:[18]
a.    Membuat schedule penelitian
Schedule penelitian berisi hal-hal yang harus dikerjakan, kapan waktunya dan deadline selesai dan lain-lain.
b.    Persiapan admisintrasi
Persiapan administrasi yang dimaksud seperti meliputi persiapan surat-menyurat, pengurusan ijin penelitian, persiapan pertemuan-pertemuan, persiapan alat-alat penelitian, dan lain-lain.
c.    Organisasi tim peneliti
Organisasi ini untuk penelitian kolektif, untuk penelitian individual tidak memerlukan pengorganisasian seperti ini.
d.   Penyusuan anggaran penelitian
Bagi penelitian individual penyusuan anggaran tidak mutlak diperlukan karena semua pengeluaran langsung dikoordinasi sendiri dengan biaya sendiri. Tapi bagi penelitian kolektif yang membutuhkan donor dari pihak lain maka perlu membuat rencana anggaran dana.
e.    Lembaga donor
Lembaga donor ini dibagi menjadi dua yaitu lembaga donor pemerintah dan non pemrintah.
f.     Ujicoba dan revisi instrument penelitian
Adapun instrument penelitian yang membutuhkan uji coba adalah jenis angket. Sedangkan jenis wawancara, observasi, interview, dokumentasi dan lainnya tidak harus diuji cobakan. Karena instrument ini selalu bersama peneliti. 
g.    Field workers dan tenaga asisten
Tenaga bantu ini diperlukan biasanya dalam penelitian kuantitatif yang dilakukan pada populasi yang sangat luas. Sehingga peneliti membutuhkan bantuan orang lain.
h.    Mengambil data dilapangan
Apabila seluruh persiapan penelitian diatas sudah selesai maka pengumpulan data bisa dimulai. Beberapa ahli mengatakan bahwa jika suatu penelitian sudah sampai pada pengumpulan data maka penelitian tersebut 80% sudah selesai.
Adapun etika dalam pengumpulan data yang sebaiknya diterapkan peneliti adalah: pertama, mampu meyakinkan bahwa privasi dan kerahasiaan responden adalah tanggungjawab peneliti. Kedua, tujuan penelitian harus dijelaskan pada subjek penelitan. Ketiga, jangan bertanya data yang sifatnya pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan tujuan penelitian. Keempat, jika responden tidak setuju atau tidak tertarik untuk memberikan respon maka harus tetap di hormati. Lima, tidak boleh terjadi distorsi dalam melaporkan data yang dikumpulkan selama penelitian.[19]

5.      Mengolah dan menganalisis data hasil penelitian
a.    Mengolah Data
Pada analisis data kuantitatif, maka pengolahan data merupakan kegiatan pendahuluan yang meliputi tiga tahap, yaitu:[20]
1.    Tahap editing (Pemeriksaan Data)
Bebarapa hal yang perlu diperhatikan pada tahap editing adalah sebagai berikut: pertama, lengkapnya pengisian jawaban. Kedua, kejelasan tulisan. Ketiga, kejelasan makna jawaban. Keempat, keajekan kesesuaian jawaban. Kelima, relevansi jawaban. Keenam keseragaman kesatuan jawaban.
2.    Tahap coding (pembuatan kode)
Apabila tahap editing telah selesai dilanjutkan dengan pembuatan kode (coding) sebagai usaha menyederhanakan data. Hal ini dilakukan dengan memberi symbol angka pada tiap-tiap jawaban. Manfaat coding ini adalah memudahkan analisis data  dan penyimpanan data. Pembuatan kode dilakukan sebelum penelitian jika pertanyaan bersifat tertutup. Sedangkan pertanyaan terbuka maka pemberian kode setelah data diperoleh.
3.    Tahap penyederhanaan data
Penyederhanaan data biasanya terjadi pada data yang diperoleh melalui pertanyaan terbuka, sehingga jawaban-jawaban responden yang berbeda-beda ini membutuhkan penyederhanaan. Langkah penyederhaan ini bisa dengan penggolongan jawaban dengan jumlah kategori yang terbatas.
4.    Tahap mengode data
Mengkode data adalah tahap akhhir dari kegiatan pengolahan data. mengkode data dilakukan dengan cara memindahkan semua data dari kuisioner ke lembaran kode atau kartu tabulasi dengan menggunkan kode sebagaimana yang telah ditetapkan pada buku kode.
b.   Rencana Analisis
Setelah pengolahan data selesai maka langkah selanjutnya adalah menyusun rencana analisis. Adapun tahapan menyusun rencana analisis meliputi:[21]
1.         Menentukan variabel yang hendak dianalisis. Pada umumnya variabel ini sudah nampak pada hipotesis penelitian.
2.         Rekontruksi variabel-variabel yang hendak dianalisis. Hal ini perlu karena terkadang data yang diperoleh tidak selalu sama dengan apa yang direncanakan. Langkah yang dilakukan adalah dengan meneliti data-data yang diperoleh kemudian melakukan penjabaran variabel bila terdapat data yang keluar dari prediksi. Penjabaran ini bisa dipandu dengan pengkodean yang disusun sebelumnya.
3.         Pengelompokan kategori/variabel kedalam kategori/variabel yang baru. Hal ini bertujuan untuk menyederhanakan kategori jawaban yang bervariasi. Dalampengelompokan kategori ini memperhatikan urutan kode, pemberian skor, dan pembentukan indeks dan skala.
4.         Table yang dibutuhkan. Kebanyakan peneliti menyajikan data yang dikumpulkan kedalam bentuk table. Adapun data bisa disajikan dalam bentuk table sebagai berikut:
a.    Table frekuensi satu variabel. Table ini biasanya digunakan jika penelitiannya bersifat deskriptif. Missal penelitian untuk mengetahui status nikah mahasiswa Pasca STAIN Tulungagung.
No
Status Pernikahan
Frekuensi
Prosentasi
1
Belum nikah
30
40,00
2
Menikah
22
29,33
3
Duda
15
20,00
4
Janda
8
10,67
Jumlah
75
100,00

Tabel 3 Status Pernikahan Mahasiswa Pasca STAIN Tulungagung
b.   Tabel silang dua variabel. Biasanya table ini digunakan untuk jenis penilitian analitis. Missal penelitian hubungan tingkat pendidikan dengan kemampuan membaca.
Kemampuan
Membaca
Tingkat Pendidikan
Jumlah
Tinggi
Sedang
Rendah
Rendah
15
10
30
55
Sedang
25
35
12
72
Tinggi
40
25
8
73
Jumlah
80
70
50
200







Tabel 4. Hubungan antara tingkat pendidikan dengan kemampuan membaca
c.    Grafik atau bagan. Pilihan grafik yang akan digunakan hendaknya disesuaikan dengan skala (ukuran) variabel, apakah nominal, rasio, ordinal atau interval.
5.         Statistik Yang Diperlukan
Adapun statistik yang digunakan disesuaikan dengan tujuan penelitiannya. Jika  penelitian deskriptif maka statistik yang digunakan statistic deskriptif yang meliputi distribusi frekuensi (untuk mengethaui penyebaran), mean modus median (untuk ukuran pemusatan data), standar deviasi (untuk mengetahui ukuran penyimpangan).
Apabila penelitian bertujuan menguji hipotesis maka digunakan statistic inferensial. Peneliti harus mengecek apakah hipotesisnya terkategori hipotesis komparasi (perbedaan, perbandingan) atau hipotesis korelasi (hubungan). Karena statistic untuk kedua hipotesis tersebut berbeda.
a.    Hipotesis komparasi
Untuk hipotesis perbedaan (komparasi) maka statistic yang digunakan adalah uji t (t-test) dan uji Chi Square. Cara menilainya dengan menguji harga “t” apabila menggunakan t-test dan harga “x2” bila menggunakan chi square. Jelasnya bisa memperhatikan table berikut:
Table 5.  nilai “t” dan “x2
1.    Hasil penelitian lebih atau sama besar dengan batas nilai yang terdapat dalam table pengukuran
a.    Perbedaan tersebut berarti signifikan
b.    Hipotesis diterima
2.                  2. Hasil penelitian lebih kecil bila dibandingkan dengan batas nilai yang terdapat dalam table pengukuran
a.    Perbedaan tersebut tidak berarti signifikan
b.    Hipotesis di tolak

                   







b.   Hipotesis korelasi
Dalam hipotesis korelasi ini penerimaan dan penolakan terhadap hipotesis (Ho) dapat dijelaskan dengan table berikut:
Table 6. Penolakan dan Penerimaan Ho
Keadaan pengujian
Penjelasan pengujian
Nilai hitung (Nh) > Nilai Tabel (Nt)
Signifikan artinya Ho ditolak
Nilai hitung (Nh) < Nilai Tabel (Nt)
Tidak Signifikan artinya Ho diterima

Adapun uji korelasi yang bisa digunakan untuk korelasi tunggal adalah teknik korelasi product moment, teknik korelasi rank order, teknik korelasi contingency, teknik korelasi tetrachoric. Untuk korelasi jamak bisa menggunakan rumus korelasi Biserial, korelasi multiserial, SDtot.
Adapun teknik uji regrisi digunakan untuk mengetahui bagaimana perbedaan sebuah variabel mempengaruhi variabel lain. Uji regresi yang paling popular dalam penelitian adalah analisis regresi linear dan analisis regresi multiregresi.
c.       Analisis dan Intepretasi
Setelah analisis data selesai dan informasi telah diperoleh maka langkah selanjutnya adalah interpretasi hasil-hasilnya guna mencari makna dan implikasi yang lebih luas dari hasil penelitian tersebut. Interpretasi bisa sempit dalam artian peneliti hanya melakukan interpretasi atas data dan hubungan yang ada dalam penelitiannya. Bisa juga luas dalam arti peneliti membandingkan hasil analisisnya dengan kesimpulan peneliti lain.
Interpretasi pada dasarnya adalah, suatu penafsiran atas hasil dari suatu perhitungan atau analisis data agar data berupa angka-angka itu dapat dilihat maknanya secara verba. Adapun dalam penelitian kuantitatif menggunakan hipotesis maka interpretasikan yang diberikan sesuai dengan hasil uji hipotesisnya. Apabila Ho ditolak maka Ha diterima ataupun sebaliknya. Kemudian hasil itu diterjemahkan kedalam bahasa kualitatif.
6.    Mendesain laporan hasil penelitian
Laporan penelitian adalah tahap akhir dari penelitian kuantitatif. Laporan penelitian amat penting karena ‘benda” ini menjadi peninggalan tertulis dari suatu penelitian yang telah dilaksanakan. Ciri laporan yang baik diantaranya adalah lengkap, ringkas dan jelas, susunan pargaraf runtut, bahasa tepat dan lain-lain. Adapun bagian-bagian laporan adalah sebagai berikut:[22]
a.       Halaman Judul
b.      Daftar isi
c.       Proposal penelitian dan surat pengesahan
d.      Ringkasan eksekutif dan synopsis
e.       Bab pendahuluan
f.       Isi laporan
g.      Bagian akhir laporan
h.      Ucapan terimakasih
i.        Daftar pustaka
j.        Lampiran
Demikianlah pemahaman dari penelitian kuantitatif. Dari definisi hingga proses penelitian kuantitatif.






BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1.    Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. penelitian kuantitatif dikembangkan oleh para penganut paham positiviesme yang dipelopori oleh August Comte. Mereka berpendapat bahwa untuk memacu perkembangan ilmu-ilmu social, maka metode metode Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) harus diadopsi ke dalam riset-riset ilmu social. Berdasar pada paradigma di atas maka lingkup penelitian kuantitatif sama dengan besaran ruang lingkup social, seperti pendidikan, sosiologi, politik, ekonomi, hukum, administrasi, komunikasi dan sebagainya.
2.    Kelebihan metode kuantitatif Dapat digunakan untuk menduga atau meramal. Hasil analisis dapat diperoleh dengan akurat bila digunakan sesuai aturan. Dapat digunakan untuk mengukur interaksi hudungan antara dua/lebih variabel. Dapat menyederhanakan realitas permasalahan yang kompleks dan rumit dalam sebuah model. Kekurangan metode kuantitatif Berdasarkan pada anggapan-anggapan (asumsi) Asumsi tidak sesuai dengan realitas yang terjadi atau menyimpang jauh maka kemampuannya tidak dapat dijamin bahkan menyesatkan. Data harus berdistribusi normal dan hanya dapat digunakan untuk menganalisis data yang populasi/sampelnya sama. Tidak dapat dipergunakan untuk menganalisis dengan cuplikan (sampel) yang jumlahnya sedikit (> 30)

2 komentar:

  1. terima kasih ya makalah, ini sangat membantu,,
    sekali lagi terima kasih,,,

    BalasHapus
  2. punten kak, mau nanya..
    istilah-istilah yang berkaitan dengan penelitian kuantitatif apa aja ya?

    BalasHapus